Rabu, 05 Januari 2011

PUISI BENCANA ALAM

BENCANA ALAM

Nyawa ibarat nyamuk sekali tepuk langsung mati

Melayang terbang dengan mudah sesuai garis ilahi

Sayang, waktu memintanya secara misteri

Sekali waktu banyak diminta sehingga meninggalkan luka sangat pedih

Sampai seisi alam ikut merintih

Sakit rasanya mendengar tangis isak family

Kalau begini, aku hanya tertegun didepan layar kaca televisi

Menghitung nyawa yang permisi pergi

Rasanya Tuhan terlalu kejam saat menghakimi

Bukan, ini bukan caraNYA untuk menyakiti

Bukan, juga keinginanNYA dalam memberi sanksi

Ini janji yang sudah lama namun, akan terjadi pasti

Di dalam kitab sudah (sering} berbunyi.

Hanya saja penghuni bumi lupa memahami

kalau alam juga sama punya hati,


ACEHKU SAYANG, ACEHKU MALANG



kalau alam juga sama punya hati,

Deru air bersama angin melaju

Derak pepohonan dan rumah tumbang

Dalam gerak singkat

Dalam detik

Sirna

Acehku sayang…

Tak habis di rundung malang

Acehku malang…

Bawa ribuan jiwa melayang

Bersama Tsunami ruh mengawang


TURUT BERDUKA CITA

( sapuan sapa yang menyisakan perih )

Duka cita ini begitu dalam

Untuk para korban awan panas Merapi, 26 September 2010

Kaki-kaki merapi

Tanah leluhur yang mulia

Bergerak pada malam-malam hari

Tidak kuasa kita melawan goncangan yang dahsyat

Air mata Merapi

Tanah leluhur yang kita puja

lahar dingin mencapai muara kebebasan

Bagai air mendidih sombong tumpah dari bejana

Rambut-rambut Merapi

Lahar panas wedus gembel,

Menyambar bagai kilat, listrik alam tidak bertuan

Tidak kuasa kita menahan panasnya

Badan - badan Merapi

Leluhur tempat bersandar

Menghalangi pandangan kepada yang di seberang

Mata-mata Merapi

Apa yang ingin dikatakannya ?